About Me

Foto saya
Hidup itu seperti musik, yang harus di komposisi oleh telinga, perasaan dan instink, bukan oleh peraturan

Pengikut

RSS



THEOLOGIA PUASA :
Analisa Kritis Alkitab Tentang Makna dan Motivasi Puasa yang Beres dan Bertanggungjawab di Mata Allah


oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.

Bagian Pertama

Kamis, 13 September 2007, orang-orang Islam mulai menjalankan puasa sebulan penuh menyambut bulan “suci” Ramadhan. Mereka beramai-ramai berpuasa untuk “mengekang hawa nafsu” dan “memperkuat iman”. Mari kita memikirkan dengan tajam topik tentang puasa dalam perspektif dunia dan agama-agama, iman “Kristen” dan iman Kristen yang beres berdasarkan Alkitab.

Puasa Menurut Islam
Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita mempelajari makna puasa menurut Islam dari beberapa sumber wikipedia di bawah ini.

Dalam Islam, puasa berarti “menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.” Perintah puasa difirmankan di dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 183. Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam.

Jenis-jenis Puasa di dalam Islam :
· Puasa yang hukumnya wajib
o Puasa Ramadan
o Puasa karena nazar
o Puasa kifarat atau denda
· Puasa yang hukumnya sunah
o Puasa 6 hari di bulan Syawal
o Puasa Arafah
o Puasa Senin-Kamis
o Puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)

Hikmah dari ibadah shaum (puasa) itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup.

Selain itu, puasa juga “abstaining from any falsehood in speech and action, from any ignorant and indecent speech, and from arguing and fighting, and lustful thoughts. Therefore, fasting helps develop good behavior. Fasting also inculcates a sense of fraternity and solidarity, as Muslims feel and experience what their needy and hungry brothers and sisters feel. However, even the poor, needy, and hungry participate in the fast. Moreover, Ramadan is a month of giving charity and sharing meals to break the fast together.” (=menjauhkan diri dari segala kebohongan di dalam perkataan dan tindakan, dari berbagai perkataan yang bodoh dan cabul/tidak pantas, dan dari perdebatan dan perkelahian, dan pikiran jorok. Oleh karena itu, puasa menolong mengembangkan tingkah laku yang baik. Puasa juga mengajarkan berulang-ulang pengertian persaudaraan dan solidaritas, sebagaimana orang-orang Islam merasa dan mengalami apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya yang membutuhkan dan lapar. Bagaimanapun juga, baik orang miskin, membutuhkan, dan lapar berpartisipasi di dalam puasa. Lebih lanjut, Ramadan adalah bulan untuk memberi sedekah dan berbagi makanan untuk mengerti puasa bersama.)

Lebih lanjut, puasa di dalam Islam dimulai pada Sahur (sebelum subuh), Imsak (kira-kira 10 menit setelah Sahur) dan diakhiri dengan berbuka (kira-kira sore sampai petang hari).

Selain itu, makan, minum dan hubungan seksual dilarang selama puasa. Di dalam puasa, mereka juga harus menahan diri dari kejahatan, kemarahan, cemburu/iri hati, kerakusan, hawa nafsu, memfitnah, dan berusaha untuk akur satu sama lain lebih baik dari biasanya. Dan juga, segala penglihatan dan suara-suara yang cabul dan tidak beragama (irreligious) dilarang selama puasa. Puasa juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada “Allah” dan juga sebagai sarana untuk menghapus dosa. Selain itu, puasa juga sebagai sarana untuk mengontrol diri dan sabar. Golongan orang-orang yang tidak boleh berpuasa adalah anak-anak yang belum mengalami pubertas, orang yang mengalami diabetes, dan wanita melahirkan/hamil.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Puasa_(Islam), http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting dan http://en.wikipedia.org/wiki/Ramadan


puasa menurut agama - agama didunia

Hampir sama seperti Islam, agama-agama dunia juga mengajarkan tentang puasa sebagai sarana penyangkalan diri. Mari kita simak penjelasan puasa dari berbagai agama dunia.


In the Bahá'í Faith, fasting is observed from sunrise to sunset during the Bahá'í month of `Ala' (between March 2 through March 20). Bahá'u'lláh established the guidelines in the Kitáb-i-Aqdas. It is the complete abstaining from both food and drink (including abstaining from smoking). Observing the fast is an individual obligation, and is binding on all Bahá'ís who have reached the age of maturity, which is fifteen years of age…The Guardian of the Bahá'í Faith, Shoghi Effendi, explains: "It is essentially a period of meditation and prayer, of spiritual recuperation, during which the believer must strive to make the necessary readjustments in his inner life, and to refresh and reinvigorate the spiritual forces latent in his soul. Its significance and purpose are, therefore, fundamentally spiritual in character. Fasting is symbolic, and a reminder of abstinence from selfish and carnal desires." (=Dalam iman Bahá'í, puasa dirayakan dari matahari terbit sampai matahari terbenam selama bulan Bahá'í ‘Ala’ {antara 2 Maret sampai 20 Maret} Bahá'u'lláh menegakkan peraturan ini di dalam Kitáb-i-Aqdas. Itu adalah benar-benar menjauhkan diri baik dari makanan dan minuman {termasuk menjauhkan diri dari merokok}. Menjalankan puasa adalah sebuah kewajiban individu, dan itu bersifat mengikat pada semua orang Bahá'í yang telah mencapai usia kedewasaan, yaitu berusia 15 tahun… Pemimpin Bahá'í, Shoghi Effendi menjelaskan, “Pada dasarnya periode meditasi dan doa, akan penyembuhan spiritual kembali, selama orang-orang beriman harus berusaha keras untuk membuat pentingnya penyesuaian kembali di dalam inti hidupnya, dan untuk menyegarkan dan menguatkan kembali kekuatan spiritual yang tersembunyi di dalam jiwanya. Oleh karena itu, signifikansi dan tujuannya adalah secara dasar spiritual di dalam karakter. Puasa adalah simbol, dan pengingat akan pantang dari mementingkan diri sendiri dan keinginan duniawi.” )

Buddhist monks and nuns following the Vinaya rules commonly do not eat each day after the noon meal, though many orders today do not enforce this. This is not considered a fast, but rather a disciplined regiment aiding in meditation. Fasting is generally considered by Buddhists as a form of asceticism (=Para rahib dan biarawati Buddha mengikuti aturan Vinaya tidak makan selama sehari setelah makan siang, meskipun banyak aturan sekarang tidak memaksakan hal ini. Ini tidak dianggap sebagai puasa, tetapi lebih sebagai pertolongan peraturan disiplin di dalam meditasi. Puasa secara umum dianggap oleh Buddhist sebagai bentuk dari asketisme…)

Fasting is a very integral part of the Hindu religion. Individuals observe different kinds of fasts based on personal beliefs and local customs… Fasting can also mean limiting oneself to one meal during the day and/or abstaining from eating certain food types and/or eating only certain food types. In any case, even if the fasting Hindu is non-vegetarian, he/she is not supposed to eat or even touch any animal products (i.e. meat, eggs) on a day of fasting. (=Puasa adalah bagian yang sangat integral di dalam agama Hindu. Orang-orang melaksanakan berbagai bentuk puasa berdasarkan kepercayaan pribadi dan kebudayaan lokal… Puasa juga dapat berarti membatasi diri terhadap makanan selama selama dan/atau menjauhkan dari makan beberapa jenis makanan dan/atau makan hanya beberapa macam makanan. Dalam pengertian lain, meskipun puasa Hindu adalah non-vegetarian/bukan makan sayur-sayuran), dia tidak berarti untuk makan atau pun menyentuh hasil-hasil dari binatang {seperti : daging, telur} selama bulan puasa.)

Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Fasting


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

read comments



BULAN puasa sudah di depan mata. Nggak terasa kita bertemu lagi dengan bulan yang penuh hikmah ini. Kebaikan yang kita lakukan pahalanya tentu berlipat ganda dari pada bulan-bulan biasa. Pastinya sebagai muslim kita berlomba-lomba melakukan kebaikan.

Nah buat kita yang pelajar, menuntut ilmu di sekolah termasuk ibadah lho. Hal tersebut terbukti dari mayoritas sobat xpresi (sobeX) dengan kompak menjawab setuju untuk tetap masuk sekolah saat bulan puasa (53,3 persen). Namun, ada sebagian sobeX yang nggak setuju untuk masuk sekolah saat puasa. Alasannya sekolah saat bulan puasa bawaannya tidur terus (48 persen), ntar kepikiran makan terus (26,5 persen) dan waktu belajar terbuang sia-sia (22,4 persen). Bener nggak sih?

Pengakuan pertama meluncur dari mulut Abdul Rahman asal SMK Yayasan Dwi Sejahtera (YDS). Doski yang akrab di panggil Abdul ini salah satu sobat Xpresi (sobeX) yang nggak setuju sekolah saat bulan puasa. Alasannya sekolah saat puasa bawaannya tidut terus. Kok bisa?

“Libur dong! Karena belajar itu menguras pikiran, jadi cepat capek. Ya pastinya bikin ngantuk,”ucap pelajar XI Mekanik Otomotif ini. Selain bikin ngantuk, doski bilang banyak aktivitas bisa jadi dehidrasi. Terutama saat siang hari ketika cuaca lagi panas-panasnya. “Wah, bisa kekurangan cairan kalau cuaca lagi sangat panas,” ujar cowok penggemar warna ungu ini.

Ternyata setelah ditelusuri, doski punya pengalaman yang unik sehingga ia memilih libur. Kejadiannya sih ketika doski masih duduk di bangku kelas IX SMP. Pengalaman tersebut ternyata punya penguruh kuat bagi doski untuk memilih libur sekolah saat puasa. Penasarankan ceritanya, simak yuk !

“Ketika itu sedang pesantren kilat kira-kira jam 11.00-an. Semua siswa sedang mendengar ceramah agama. Aku dan beberapa teman ku ngumpul di belakang. Ya namanya juga ngumpul bareng teman-teman. Semua godaan datang. Padahal cuma satu orang yang bilang laper, eh semuanya malah kompakan ngumpulin duit untuk beli makanan, padahal semua masih dalam status puasa. Kebetulan diantara kami ada yang bertubuh kecil, jadi dia yang kami tugaskan untuk membeli makanan keluar. Dia keluar dengan selamat. Tapi ketika kembali dia nyaris ketahuan oleh guru. Nggak nyaris lagi sih, emang ketahuan. Makanan yang di bawanya di lemparnya, ya udah kami ambil dong. Dianya ketahuan deh nggak puasa karena membeli makanan, kaminya nggak. Makanan yang kami dapatkan itu ya kami makan. Alhasil puasa kami batal deh, awalnya nggak ada niat untuk ngebatalin, tapi karena ada faktor-faktor tertentu akhirnya batal juga. Teman aku yang ketahuan itu sih kasian, untung deh kasus itu nggak di perpanjang, selamat-selamat. Kan malu kalau satu sekolah tau kami nggak puasa..” kenang cowok kelahiran Pekanbaru,28 Juli 1992 ini sambil nyengir.

Pengakuan serupa juga datang dari Wulan Fitri, Siswi SMAN 4 Pekanbaru. Cewek yang hobi online ini setuju dengan pendapat Abdul. Alasannya sama. Doski bilang, sekolah saat puasa bawaanya tidur terus. Wah kompakan ya? “Aku setuju libur! Siang-siang itu, kan laper tuh karena perut kosong. Jadi ngantuk deh, konsentrasi cepat buyar gitu deh,” tutur pelajar XII IPS 3 ini.

Pendapat Abdul dan Wulan fitri juga masih banyak di dukung para sobeX lainya. Eits! Tunggu dulu, dari yang udah nyampein komentar di sini, justru banyak yang memilih tetap sekolah lho! Alasannya pun beragam


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

read comments


PERSPEKTIF PERSAMAAN GENDER MENURUT PANDANGAN ISLAM

Jender adalah suatu konsep yang dipergunakan untuk menunjukkan perbedaan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional yang dianggap tepat pada lski-lski dan perempuan yang dibentuk oleh lingkungan sosial dan psikologis termasuk histories dan budaya (non biologis). Jender lebih menentukan aspek ,askulinitas dan feminitas, bukan jenis kelamin dan biologis.
‘’Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya duanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-nama Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu’’ ( Q.S AN-Nisa ayat 1)
Ayat tersebut memberikan inspirasi kepada kita adanya proses kejadian manusia yang sama. Status kejadian laki-laki sama dengan status kejadian perempuan, maka segi derajatpun antara keduanya akan sama. Adanya perbedaan jenis kelamin (seks) yang digariskan Tuhan, sebenarnya hanya merupakan bentuk pelabelan identitas kepada keduanya agar memiliki karakteristik dan kebanggaan. Perbedaan jenis kelamin -laki-laki dan perempuan sesungguhnya tidak pernah akan menghambat segala aktivitas yang hendak mereka lakukan.
Dalam kehidupan sosial, antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Perbedaannya hanyalah dalam masalah kodrati, seperti menyusui, melahirkan, dan menstruasi. Akan tetapi, dibeberapa bagian kehidupan sosial, laki-laki dan perempuan kerap kali terjadi perbedaan. Perbedaan tersebut terkait dengan hal-hal yang bersifat fisik. Akibatnya, pihak laki-laki sering menerima perlakuan yang lebih dibandingkan dengan perempuan. Padahal Al-Qur’an sendiri melalui ayatnya tidak pernah membedakan mereka,yang membedakan hanya kadar ketaqwaan masing-masing (AL-Hujurat ayat 13).
Melalui sumber pokoknya, islam paling tidak telah mengakui persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Namun karena adanya perbedaan fisik kerapkali dipahami sebagai sesuatu yang berbeda. Apalagi sering didukung oleh tradisi-tradisi masyarakat awam yang tidak paham akan persoalan yang sebenarnya. Karenanya, perbedaan jenis kelaminsering berimplikasi pada ketidakadilan gender. Laki-laki sering dianggap sebagai sosok yang kuat, tegar, dan bisa melindungi. Sementara perempuan sering dianggap sebagai sosok yang lemah, lembut dan tidak bisa melindungi. Kondisi demikian tentu akan berimplikasi pada posisi pekerjaan yang juga tidak memadai, laki-laki dianggap cocok dengan pekerjaan-pekerjaan public, sementara perempuan dianggap oleh mayoritas orang hanya akan mampu mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan domestic saja. Rumah tangga, dan seputar dapur keluarga. Anehnya, anggapan-anggapan tersebut malah didukung dan dibenarkan oleh banyak kaum muslim di dunia. Oleh karenanya wajar, kalau bias jender terus menggejala dan mentradisi naik di kalangan masyarakat umum maupun masyarakat islam khususnya.
Dalam islam, istilah gender sebenarnya bukan merupakan masalah yang lahir dari agama yang bersangkutan, namun demikian, masalah gender telah menjadi masalah islam. Karena, ketidakadilan gender masih banyak dijumpai dalam pemahaman islam. Islam sering dituding sebagi salah satu institusi yang melanggengkan ketimpangan dan ketidakadilan gender. Tampaknya ada dua pandangan yang memberi respon terhadap pernyataan ini. Pertama, mewakili kelompok yang beranggapan bahwa tidak benar agama melanggengkan ketimpangan dan ketidakadilan gender. Agama mempunyai misi suci, oleh karena itu, tidak perlu dipertanyakan lagi dan tidak mungkin berbuat tidak adil terhadap pemeluknya. Kedua, mewakili kelompok yang memahami bahwa agama dan jarannya adalah suci. Karena manusia terbatas dalam pemikiran dan perbuatan maka muncullah penyimpangan-penyimpangan tersebut yang akibatnya menghasilkan tindakan-tindakan yang timpang serta perlakuan yang tidak adil antara lain persoalan gender. Kedua pendapat tersebut sesungguhnya lebih bermuarapada pernyataan-pernyataan ayat yang bisa memberikan indikasi kesimpulan yang berbeda. Satu sisi, ada ayat yang menjelaskan bahwa ada sisi kesamaan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana terdapat dalam Al-Quran surat Al-Mujadilah ayat 13, Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah tidak pernah membedakan antara satu golongan dengan golongan lainnya, perempuan dan laki-laki, dihadapanNya semuanya sama,yang membedakan antara mahluk-mahlukNya hanyalah persoalan ketaqwaan yang tidak semua orang memilikinya. Namun, pada saat yang lain Al-Qur’an juga kelihatan diskriminatif terhadap persoalan pembagian warisan, sebagaimana terdapat dalam surat An-Nisa. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa proses pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan berbeda, laki-laki memperoleh satu bagian penuh sedangkan perempuan memperoleh bagian setengahnya. Penjelasan ayat tersebut kelihatan diskriminatif, bahkan ada tendansi bias gender.
Bagaimana islam menempatkan perempuan? Ini bisa dilihat dari berbagai perspektif. Ada sebagian kalangan menganggap bahwa secara doctrinal ajaran islam menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Ini merupakan buah penafsiran atas beberapa teks aagama yang seolah-olah berbicara demikian. Al-quran menyatakan bahwa, ‘’kaum laki-laki menguasai perempuan’’(Q.S. An-Nisa ayat 34). Ayat ini sesungguhnya memberikan pengertian antropologis. Walaupun diputar balik, memang laki-laki itu tetap qawwam, lebih tegar, lebih bertanggung jawab atas keselamatan perempuan, ketimbang sebaliknya(secara fisik), dan sebagainya. Bisa juga dalam pengertian psikologis, lelaki melindungi perempuan sebagai mahluk yang dianggap lemah. Akan tetapiada kekuatan pada diri perempuan, yakni bisa memilih laki-laki. Ini membuktikan bahwa dibalik kelemahannya dari segi fisik, perempuan mempunyai kedudukan yang amat kuat. Memang sudah kodratnya lelaki mengejar perempuan.
Peran penting yang dipegang perempuan banyak kita lihat contohnya dalam sejarah. Aisyah, istri Rasulullah adalah perempuan yang amat popular dan pandangannya dalam soal-soal agama maupun pemerintahan dijadikan rujukan bagi para sahabat, bahkan menjadi pemimpin dalam perang jamal. Syajarah Ad-Dur, menjadi ratu pada masa Mamalik . Almh. Benazir Butho, tampil sebagai perdana menteri di Republik Islam Pakistan yang hampir penduduknya semua notabene Muslim.
Ada banyak solusi yang coba ditawarkan para tokoh dalam rangka menghilangkan ketidakadilan gender, antara lain, harus ada kesadaran kolektif, baik dari kaum laki-laki, ulama, maupun masyarakat pada umumnya, serta perempuan itu sendiri. Laki-laki paling tidak harus bisa memulai menghilangkan kearogansiqannya dalam memandang perempuan. Perempuan tidak lagi harus dipandang sebagai pelengkap hidup teman hidup berunah tangga. Sementara ulama harus mampu mereinterpretasi ayat-ayat yang berbau gender untuk disesuaikan dengan kondisi kekinian. Kampanye penghilangan ketidakadilan gender tidak akan mempunyai banyak arti manakala masyarakat tidak memberi dukungan positif. Terutama dari kaum perempuan yang selama ini menjadi korban ketidakadilan gender harus mulai berani tampil dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki , tunjukkan kalau kita sebagai perempuan bisa menjalankan proyek-proyek besar sebagaimana yang biasa dilakukan laki-laki. Seperti ibu Mooryati Sudibjo, seorang direktur Utama P.T Mustika Ratu. Itu membuktikan bahwa kita sebagai kaum perempuan juga bisa menempati posisi yang dipandang sangat penting. Dengan demikian, upaya penghilangan bias gender dilakukan secara kolektif dengan tanggung jawab dan wilayah kerjanya masing-masing.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

read comments